Baiklah, ane akan memulai semuanya dari UTS ane yang baru kelar Jum’at lalu. UTS yang benar-benar gila, mulai dari soal yang gila, pengawas yang agak gila, dan ane sendiri yang benar-benar gila karena hampir tidak belajar dalam menghadapi evaluasi ini.
Ini merupakan evaluasi pertama ane selama semester III, dalam menempuh pendidikan di Kampus yang katanya, mencetak kader-kader aparatur pemerintahan bangsa ini, atau begitulah yang ane denger saban hari di sini.
Langsung ajalah gak usah banyak basa basi, ane tau ane basi kok.....(Jayus?....uda tau kok!!)
Ujian dimulai hari Senin tanggal 15 November yang lalu, dengan Mata Kuliah Sistem Politik Indonesia dilanjutkan dengan Sistem Administrasi Publik,.....,See...!!! kenapa ada banyak embel-embel sistem pada mata kuliah ane??? Entahlah !!, ini absurd saudara-saudara, tercatat di otak ane yang segede kacang ijo, kalo ada sekita 3 mata kuliah ane di Semester ini yang make kata Sistem, ada yang salah dengan ketua jurusannya kali??? Tanyakan pada kutang yang mengambang.
Berhubung ane sangat demen dengan perpolitikan di Indonesia, yang walaupun saat ini sedang “gak unyu” , atau begitulah yang anak gaul sekarang bilang, entah kenapa hati ane selalu dag dig dug belalang kuncup penuh gairah saat berbicara tentang politik. Apa ane ada bakat jadi politikus ?? semacam poliklinik, untuk mengobati tikus-tikus yang sakit (baca : koruptor), Ini masih misteri. Huehuehuehue. BTW, kenapa orang yang berhubungan dan berkecimpung di dunia politik disebut politikus?? (ane gak mau dimiripin ama tikus -_-) Apa karena mereka semua punya kumis 3 helai?? Kenapa juga koruptor diidentikkan dengan tikus ya?? Kenapa gak marmut?? Apa karena marmut terlalu unyu ??? atau emang tampang koruptor yang kelewat jelek?? Padahal kan marmut sama tikus sama-sama punya kumis?? Ini juga masih misteri.
Masih sinkron dengan ketertarikan ane akan politik, maka pada akhirnya serta merta dedi dores, pada malam itu, malam yang beegitu tenang tanpa suara binatang-binatang malam, ane belajar. Ya, belajar!! Membaca beberapa slide yang sudah dikonversikan dalam bentuk fotokopian yang di berikan oleh dosen, dan telah ditandai pada beberapa bagian oleh ane dengan sangat pintar dan ganteng, sebagai bahan-bahan yang akan keluar pada UTS esoknya a.k.a. kisi-kisi, padahal sebelumya menangis setengah kayang ke dosen untuk minta kisi-kisi itu.
Well, akhirnya hari penuh suka cita itu pun dimulai, pengawas mulai membagikan soal, dan kayak mimpi ketemu tukul, soal-soal SPI membuat ane tertawa !!, bener-bener ngakak, bahan-bahan yang uda ane baca malam sebelumnya, keluar bulat-bulat di atas lembar soal. Gak ambil tempo lagi dah, buka tutup bolpen, langsung tancap gas ngejawab tuh soal semuanya. Biar cepet selesai dan ane jadi keliatan pinter dan belajar di mata temen-temen ane. Cerdas dan elegan bukan ??? Akhirnya setelah menulis tanpa henti, dan menghasilkan jawaban sekeren mungkin, ujian ane beres dan waktunya meninggalkan salinan di lembar soal buat dicontekin ama anak-anak.
Tapi bonengnya, ujian kedua yang berjudul Sistem Administrasi Publik ane jadi seperti perlombaan mengarang tingkat SMP Se – Kecamatan, karena ane gak belajar sama sekali, karena gak tau mana bahan yang keluar, juga karena dosennya gak pernah ngasi catatan, karena juga dosennya kalo ngasi kuliah kayak ngedongeng, dan yang paling menggiriskan, karena dosennya ngambek masuk pas pertemuan terakhir sebelom UTS, karena banyak yang tidur. Walhasil, lembar jawaban ane jadi penuh imajinasi liar hasil pemikiran ane tentang Sistem Administrasi Publik, eh gak cuma ane deng, kayaknya seisi kelas deh (ngebela diri). Muahahahaha, dapat nilai berapa ya kira-kira itu???.
Hikmahnya : Terkadang kuliah dari dosen bisa jadi dongeng tidur buat mahasiswa.
Hari Selasa juga tidak lebih baik dari UTS S. Adm. Publik ane, padahal ane telah melakukan yang terbaik yang ane punya. Yang terbaik dari ane adalah, belajar mulai jam 8 malam selesai jam 9 malam, itupun nyambi dengan SMS an dan terkadang main-main fingerboard pas lagi stuck. Efek dari belajar dengan keseriusan tingkat abang-abang terminal ini, mengakibatkan pemahaman ane akan materi, juga setingkat kondektur. Taunya minta ongkos, dan getok-getok kaca, sambil bilang “Pinggir, Pir”, nyuruh sopir buat nurunin penumpang. Nah bedanya kalo ane taunya minta jawaban melulu, terus goyang-goyang kursi, sambil bilang “Apa ??! Gak denger!!, Kencengin dikit”. Parah.
Sementara hari Rabu, whish is bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha, waktu setempat, tentu saja libur, dan ujian dilanjutkan pada hari Kamisnya, tapi yang akibat dari libur 1 hari ini amat teramat dahsyat hebat nian banget, wahai ente-ente sekalian. Kompensasi dari libur ini ialah, hari Kamis nya, Mata Kuliah yang diujikan ada 3, iya ada TIGA....Prannnnnnnnnnnngggg (gelas pecah di kejauhan). Dalam pemikiran yang buat jadwal pasti gini : Toh ada libur 1 hari, anak-anak pasti belajar lah itu buat kesiapan UTS esok harinya. Tapi yang ane tau, yang namanya hari raya itu, harinya makan-makan, mana ada orang wajar yang belajar di Hari Raya, begitulah anggapan jenius ane di kala itu. Dengan memegang prinsip bahwa Hari Raya, adalah waktunya membabat habis makanan, maka ane pun mencari celah, rumah dosen jadi sasaran, selepas Dzuhur, ane bareng kakak senior dan beberapa Junior menyatroni rumah salah satu dosen yang 1 daerah dengan kami, dengan ngeles silaturrahmi, padahal niat suci sebenarnya mau makan lontong, hihihi. Soalnya sebelumnya merebak isu Bapak Ibu itu masak lontong. Muahahaha. Perut kenyang, hati riang, kantuk datang, tidur tenang, dan tidak belajar untuk esoknya. Sumpah ini serius!!, jangan di tiru.
Dan Kamis pun datang sebagai bentuk dari mimpi buruk yang jadi kenyataan, ane bener-bener hampa, kertas ane bener-bener kosong, otak ane kosong, selama ini ane nganggepnya kata-kata gitu cuma frasa, tapi hari itu, saat itu, wew.... benar-benar ane gak tau mau jawab apa. Tapi seperti yang selalu ane ikrarkan, bukan Ary namanya kalo gak ganteng, bukan Ary namanya kalo gak bisa ngatasi yang gituan.Solusinya, adalah bertanya. Ya BERTANYA, pepatah lama mengatakan :
“Malu bertanya, jalan-jalan”.
Tidak ada waktu bagi ane buat jalan-jalan cari jawaban, bisa-bisa digampar !!, maka bertanyalah. Dengan susah payah curi-curi ke belakang, daripada kena gampar,ane labih milih tanya ke temen yang tau, dengan resiko cedera otot leher. Akhirnya setelah puter kanan, puter kiri, srong sana sini, sedikit pemahaman ane peroleh. Bahasa kerennya, pokoknya esensi jawabannya itu ane dapet. Sekarang tinggal bagaimana meramu, meramu menjadi karangan narasi yang panjang atas jawaban dari soal-soal tsb.
Dan inilah salah satu keahlian mahasiswa yang malas belajar. Mengarang, Mereka-reka, haruslah jadi spesialisasi mahasiswa tipe ini, kalau tidak hancurlah semuanya. Dan karena ane termasuk tipe seperti itu, maka tidak sulit untuk melakukannya, bagi yang belum pernah melakukannya, dipersilahkan mencoba. Latihan bertahun-tahun, akan membuat hasil karangan ente masuk akal dan dihargai dosen dengan nilai B.Kuncinya adalah pengalaman, karena sama seperti sebelumnya –ane masih mengutip salah satu pepatah-
>"Pengalaman adalah guru yang berharga."
Setelah berhasil mengatasi beberapa ujian dengan mengarang, tanpa belajar serius, hanya membaca-baca sekilas slide, ujian hari Jum’at yang merupakan hari terakhir, ane merasa tanpa beban. Kemampuan mengarang yang sudah terlatih selama bertahun-tahun dan telah mengantarkan UTS ane sampai sejauh ini, membuat kepercayaan diri ane akan khasiat mengarang semakin melambung. Ane merasa seakan sudah menjadi Pro dalam tingkatan level mengarang, huehuehuehue. Ujian HAM yang notabene soal-soalnya, menanyakan tentang Pasal-Pasal ini itu, pun ane jawab dengan mengarang (sebelumnya ane udah bertanya melalui SMS tentang soal-soal itu dengan teman di Hukum UI, tapi no respond). Pada akhirnya ane kembali pada pilihan paling bijak, bahkan ane semakin terinspirasi dan berapi-api, saat terlibat percakapan singkat dengan seorang rekan,
Ane : “Di, kau tau jawaban no. 2??
Dia : “Tau !!”
Ane : “Hah?? Sama isi pasal-pasalnya yang berkaitan juga??
Dia : “Kalo gak tau isi pasalnya, ya ngarang aja !!”
Liatlah ente-ente sekalian, bagaimana keajaiban mengarang meracuni kami. :P :P