Top Social

superarmz - Cerita Kota dan Perjalanan

bercerita tentang kota dan catatan perjalanan

Featured Posts Slider

Image Slider

Sunday, July 19, 2015

Ternyata Ada Yang Lebih Tabah Dari Hujan Bulan Juni

Sebelumnya, Saya mau ngasitau doang, kalau : 1. Ini Bulan Juli, iya Saya tau. Terus kenapa postingannya ada Juni nya ? Yah baca ajalah dulu. 2. Ini Lebaran ketiga, 3. Saya belum minta maaf ke Kalian semua pembaca Blog ini, itu juga kalau ada yang baca sih. 4. Baiklah, Saya mohon maaf yah kalau ada salah ketik maupun salah kata pada kalian semua (masih ngotot berasa ada yang baca) sekaligus mau ngucapin Selamat Hari  Raya Idul Fitri 1436 H, Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Jangan lupa sampaikan salam Saya sama keluarga besar di rumah, sama sepupu yang cakep juga kalau bisa. 


Ada yang tau puisi 'Hujan Bulan Juni'-nya Sapardi Djoko Damono ? Yang gak tau ini Saya kutip kembali, 


Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu    


Sudah dibaca ? Bagus. Coba dibaca bait pertama sekali lagi, mantap. Nah ternyata setelah Lebaran pertama kemarin, Saya menemukan kenyataan, bahwa ternyata ada yang lebih 'tabah' dari Hujan Bulan Juni-nya Sapardi Djoko Damono. Siapapun dia, yang lebih tabah itu pasti hidupnya berat. Halah !

Jadi gini, Lebaran pertama kemarin Saya mudik ke rumah keluarga besar dari Ibu Saya di Kota sebelah, satu jam dari Kota tempat tinggal Saya. Karena dekat Saya pun memilih waktu selesai Jumatan untuk pergi kesana setelah pagi harinya terlebuh dahulu Saya datang ke Open House Pak Walikota. Alhasil Saya berangkat mudik belakangan, tapi dalam kondisi perut kenyang. Hohoho.

Jalanan ramai, Saya pun memilih santai saja sambil menikmati ramainya lalu lintas oleh para pemudik lokal. Satu jam di perjalanan, Saya tiba di Perbaungan.   Begitu turun, Saya pun langsung berlari masuk ke dalam rumah mencari yang segar-segar, karena kerongkongan udah kering gara-gara cuaca yang lumayan terik padahal itu udah hampir jam empat, lho. 

"Aaaaaah.....segar akhirnya", kata Saya dalam hati. Kegiatan pun berlanjut ke sesi salim-salim dan minta maaf ke sanak famili. Selesai semua-semuanya lanjut makan-makan enak nih, pikir Saya. Perut masih kenyang sisa makanan Open House, yaudah makan-makan kue kering ajalah. Semua kue-kue khas Lebaran tak luput dari jangkauan Saya, sampe mata Saya tertuju pada setoples telur gabus keju. Ulalalala.......

Men, enak !!!!! Yang sampe detik ini belum pernah makan telur gabus keju, mendingan pesen tiket lah ! Pesen tiket ke Zimbabwe sana terus pergi dan gausah balik-balik Indonesia lagi. Cemilan Indonesia enak gini kok gak pernah makan. Heran.

makanan orang-orang maju

Karena Saya kalap nemuin cemilan kesukaan, tanpa ba-bi-bu lagi langsung buka toples dan langsung masukin mulut terus ngunyah dengan rakus. Baru empat kali kunyahan kok tiba-tiba sisi kanan rahang kayak ada yang ngeganjel gini nih, pikir Saya. Ngerasa gak nyaman, Saya lari ke depan kaca dan beneran aja, pas buka mulut ngeliat ke barisan gigi bawah yang sebelah kanan, di belakang gigi taringnya, geraham Saya udah bolong aja gitu lho. 


HWUAAAAAAAAHHHHH !!!!!!! TAMBALAN GERAHAMKU LEPASSSS GIMANA INI HWUAAAAAAAHHH !!!!!! 


Karena panik Saya makin lama di depan cermin, sambil megang-megang bagian yang keliatan lobangnya. Gak sakit sih emang, tapi kan yah gak bisa makan. Pikiran macam-macam pun mendadak muncul di kepala.

Aduh, gimana ini mana bisa makan, lagi Lebaran pula ini gimana yah ke rumah sakit pasti dokter giginya juga gak ada. 

Padahal masih banyak makanan yang belum dicicipi kan sayang, nanti kalau ditanya kapan nikah jawabnya apa.



Wah Raisa nih ! Serba salah ! 



Dan, disisa hari kemarin pun akhirnya Saya gak makan apa-apa lagi, cuma minum doang. Cuma bisa ngeliatin makanan-makanan enak habis satu demi satu dimakani, tanpa berani ikutan makan karena takut sisa makanannya nyempil di gigi yang berlubang, bisa malah kenapa-kenapa nantinya. 
Inilah kenyataan yang Saya dapatkan, lewat pemandangan makanan yang enak-enak, ketabahan Saya sedang diuji. Di Lebaran pertama Saya akhirnya mengerti, tak ada yang lebih tabah dari orang yang lepas tambalan giginya. Saya sendiri. 











*diketik masih dalam keadaan gigi yang berlubang belum ditambal kembali* *elus-elus rahang*

Tuesday, July 14, 2015

Akhirnya Acara Ini Ada Lagi

Jadi kan dulu, sekitar dua tahun lalu Saya pernah posting disini tentang satu acara kumpul-kumpul pengguna sosial media bersama dengan Kawan-Kawan Komunitas dalam satu kegiatan pada bulan Ramadhan yakni buka puasa bersama, yang Kita beri nama #BebaskanTBG. Acaranya waktu itu sukses berat dengan peserta yang hadir melebihi target. Yang penasaran gimana serunya acara waktu itu bisa ke postingan yang berjudul #BebaskanTBG : Ajang Berkumpul dan Bertatap Muka Kawan Sosial Media 



Nah, harapannya adalah acara #BebaskanTBG ini menjadi Annual Event yang bisa memiliki kontribusi positif terhadap kemajuan social movement kota ini. Tapi apalah daya namanya juga manusia terkadang suka baper, tahun lalu pun terlewatkan tanpa digelarnya kembali acara ini. Agak sedih sih, apalagi Kita selaku Team #BebaskanTBG kan udah berusaha juga untuk menghadirkan acara tersebut, tapi yah karena masing-masing personil sedang berada pada kesibukannya sendiri kalo dipaksakan pasti hasilnya gak maksimal.

Sebelum puasa kemarin, salah seorang anggota Team #BebaskanTBG tiba-tiba menghubungi Saya dan bilang,


“Bang, Ayo kita bikin #BebaskanTBG lagi yuk Ramadhan nanti !”.


“Ayo aja sih tapi beberapa personil kan lagi gak ada di tempat nanti gak maksimal.”


“Nanti Kita ajak aja beberapa orang lagi Bang, buat ngebantuin”


“Okelah, kalo gitu ayok kita garap lagi”



Maka, konsep acara pun dibahas kembali. Kali ini lebih terorganisir dari dua tahun yang lalu. Karena beberapa Team lama bekerja di luar kota dan supaya memudahkan diskusi konsep dan pembahasan, maka Kita pun sepakat bikin Group Line. Dari Group Line lah diskusi mengenai acara serta pembagian Job Desc masing-masing disampaikan. Beberapa akun social media #BebaskanTBG pun ikut dibuat, seperti Instagram sampai Weebly. Jadilah acara kali ini Kita beri nama #BebaskanTBG 2.0.


Acara pun di gelar di awal bulan Juli Kemaren, tepatnya 5 Juli 2015, masih di venue yang sama dengan dua tahun yang lalu. Acara pada hari H sendiri berlangsung sukses secara keseluruhan meskipun ada beberapa kesalahan minor yang dilakukan oleh Panitia, yah namanya juga sambil puasa. Hahaha, tapi Kita semua senang kok dan mudah-mudahan tahun depan Kita bisa balik lagi dengan animo Kawan-Kawan yang lebih besar lagi, doakan saja. Semangat Team #BebaskanTBG !


Silahkan kunjungi akun Instagram di #BebaskanTBG 2.0 kalau mau lihat dokumentasi lengkapnya yah.

Ada berita tentang acara ini juga di Tribun Medan
  


Monday, March 2, 2015

Zona Nyaman Itu Enak, Masalah ?


Beberapa waktu  yang lalu, seorang Kawan lama menghubungi Saya, katanya ingin bertemu. Berhubung Saya sedang santai, maka Saya pun menyanggupi. Begitu selesai menerima telepon, Saya pun bergegas menuju tempat janjian. Sampai di tempat yang dituju, Saya langsung mengenalinya telah duduk manis dengan senyum terkembang. Jupel masih orang yang sama, dengan rambut belah samping yang selalu tersisir rapi. Sembari berjabat tangan, Saya pun ikut duduk bersamanya. Sedikit basa – basi menanyakan kabar satu sama lain, akhirnya sampailah kami pada obrolan ini,


“Bang, Aku mau ke Bali...” Katanya

“Hah, mau ngapain Kau, Liburan ?” Kataku setengah kaget sambil berusaha menjaga bicaraku tetap  tenang.

“Aku mau merantau, Bang. Mau cari kerja.”

“Lho, kenapa jauh kali ? Gak di Medan aja, Kau kan Sarjana ? Dapatnya itu kerja yang bagus....“

“Gak tau Bang.Tiba-tiba aku pingin kesana....”

Aku terdiam sejenak.

“Oh, Yaudah. Mudah – mudahan tercapai mimpimu disana yah...” Akhirnya aku menjawab. Dalam hati ikut mendoakan.

Sampai dirumah, Saya berpikir ulang tentang kejadian barusan. Jupel memaksa Saya untuk berpikir ulang tentang tujuan hidup, tentang apa yang belum, sudah, dan akan Saya lakukan. Neal Donald Walsch pernah mengatakan, “Life begins at the end of your comfort zone”, Saya tidak kenal Neal, semoga Anda pun tidak, tapi Saya yakin, apa yang diucapkannya kira – kira kurang lebih begini, 

“Hidup dimulai saat Kau berada diakhir zona nyaman”. Semoga tidak terlalu jauh.

Lantas, apa hubungannya Neal dengan Jupel Kawan Saya ? Mungkin Jupel bahkan belum pernah membaca apa yang dituliskan Neal tentang hidup. Tidak seperti Saya, yang sedikit – sedikit butuh quotes sebagai motivasi. Ralat, bukan cuma Saya tapi sebagian besar dari Kita. Sebegitu tidak berdayanya kah diri Kita menghadapi hidup ini sampai harus menemukan rangkaian kata – kata yang pas sebagai keterwakilan dari apa yang kita rasakan setiap saat ? Pantas saja Mario Teguh Golden Ways selalu jadi tontonan wajib masyarakat di republik ini.

Jupel mungkin belum kenal Neal, tapi Jupel lah orang yang langsung melakukan apa yang dikatakan Neal. Jupel lah orang yang berani keluar dari zona nyamannya selama ini. Jupel pergi merantau ke tempat lain, mengadu nasib seorang diri, berharap punya masa depan lebih baik berbekal selembar ijazah Sarjananya. Padahal Jupel seharusnya bisa enak-enakan tinggal di sini, menikmati semua kemewahan yang tersedia karena semua fasilitas yang didapatnya termasuk lengkap. Orangtua yang siap membantu mencarikan kerja yang baik, keluarga besar yang bisa didatangi ketika tidak punya uang, motor yang bagus, uang jajan tinggal minta, Kawan – kawan selalu ada, Handphone yang update dan Social Circle yang beragam bahkan calon istri pun bisa dicarikan. Semua yang Jupel butuhkan.     

Namun seperti juga yang berlaku ke semua orang, hal ini juga berlaku baginya. Tidak ada seorangpun yang bisa memastikan Jupel akan berhasil di sana. Kalaulah Jupel seorang penjudi, maka sebuah perjudian paling besarlah yang sedang dilakukannya saat ini. Perjudian nasib, perjudian hidup. Jupel sedang menantang hidup. Dan Jupel memilih itu semua ketimbang harus berada di bawah payung bernama kenyamanan.

Seperti Jupel, Saya pun punya mimpi. Kita semua juga punya mimpi dan setiap dari Kita selalu berusaha untuk mewujudkannya. Perbedaannya hanyalah tentang siapa yang lebih keras dalam berusaha. Siapa yang bersedia kembali bercucuran keringat dan menghabiskan tenaga untuk berlari mengejarnya, ketika di depan Kita telah tersedia tempat yang nyaman, penuh makanan dan semua yang Kita butuhkan. Siapa yang rela untuk, setelah berhenti cukup lama menikmati tempat yang nyaman tersebut, mau repot-repot berlari kembali. Tak semua dari Kita sudi. Berlari kembali, pindah. Move out.

Move out of your comfort zone. You can only grow if you are willing to feel awkward and uncomfortable when you try something new, kata Brian Tracy.  Cih ! Ah terlalu mengada-ngada, Saya pikir. Brian gila ! Mana ada satu orang waras di dunia ini yang mau susah – susah mencoba hal baru lagi ketika sudah settle berada di satu posisi. Enak aja ! Dikira si Brian ini gampang apa yah dapat kerjaan bagus ? Siapa sih yang rela melepaskan apa yang udah diperoleh selama ini dengan susah-susah ?  Coba berapa banyak yang mau ninggalin posisi enak yang selama ini udah didapat demi mengejar yang namanya mimpi masa muda ?  Terus kenapa kalo udah settle di yang namanya Zona Nyaman (Comfort Zone) ? Mau ngatain terjebak rutinitas ? Enggak produktif lagi ? No Progress Zone ? Gak peduli.


Pokoknya nih ya, Zona Nyaman itu enak !




Kenapa, masalah ?